Rumah Etnik Papua

Jambore Pemuda Adat Domberay 2026 di Rumah Etnik Papua: Benteng Terakhir Pelestarian Identitas Budaya

Sorong, 11 Agustus 2026

Sorong, Papua Barat Daya – Arus modernisasi yang tak terbendung kini menjelma menjadi ancaman serius bagi kelangsungan budaya masyarakat adat di Tanah Papua. Merespons kondisi kritis tersebut, Rumah Etnik Papua (REP) yang berlokasi di Jl. Baru Aimas – Klamono Km. 21, Kabupaten Sorong, menjadi tuan rumah perhelatan bersejarah: Jambore Pemuda Adat Domberay 2026.

Sebanyak 30 pemuda-pemudi dari berbagai wilayah adat Domberay berkumpul di Rumah Etnik Papua pada Rabu (5/8/2026). Kegiatan ini merupakan inisiatif independen yang digagas oleh Domberay Creative Project (DCP) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Mengapa Jambore Ini Sangat Krusial?

Kekhawatiran akan lunturnya identitas budaya Papua bukanlah tanpa alasan. Fenomena “dislokasi budaya” semakin nyata, di mana elemen tradisional tergeser oleh gaya hidup instan. Ancaman ini diperparah oleh beberapa fakta lapangan:

  • Pergeseran Demografis: Data awal 2026 menunjukkan Orang Asli Papua (OAP) di Provinsi Papua Barat Daya kini menjadi minoritas (48,2%), dan di Kota Sorong proporsinya menyusut hingga 27%.
  • Krisis Bahasa Daerah: Data Balai Bahasa Provinsi Papua mencatat dari 428 bahasa lokal, empat telah punah dan 11 terancam punah. Ironisnya, dua bahasa yang terancam punah—Moi dan Mansim Borai—berasal dari wilayah adat Domberay.

Ketua Pelaksana DCP, Andrey Maryen, menegaskan bahwa jambore ini bukan sekadar seremoni. “Kegiatan ini kami maksudkan sebagai jembatan mewariskan budaya, tradisi, dan ritual adat dari para tetua kepada generasi muda,” ujarnya.

Sinergi Lintas Pihak di Rumah Etnik Papua

Pemilihan Rumah Etnik Papua sebagai lokasi utama jambore sangatlah tepat. Dikelola oleh Ibu Mitshi Wanma, REP merupakan UMKM Orang Asli Papua (OAP) yang berdedikasi penuh pada pelestarian arsitektur dan seni budaya lokal. Kehadiran miniatur rumah adat seperti Rumah Honai, Kaki Seribu, dan Rumsram di area REP memberikan atmosfer autentik yang mendukung proses transfer pengetahuan leluhur.

Pemerintah pusat dan daerah turut hadir memberikan dukungan penuh:

  • Dr. Julianus Limbeng, M.Si. (Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Kemenbud RI) menekankan bahwa pemuda adalah pemegang tongkat estafet kekayaan budaya Papua yang luar biasa.
  • Marthen Nebore, S.Sos., M.Si. (Staf Ahli Bupati Sorong) menegaskan bahwa kolaborasi pemuda adat dan pemerintah adalah kunci untuk menggali kearifan lokal menjadi aset kebanggaan.

Rangkaian Jambore yang dikendalikan penuh oleh kemandirian pemuda-pemudi asli Papua ini berlangsung hingga 10 Agustus 2026. Acara akan ditutup pada malam puncak di Gedung Lambert Jitmau, Kompleks Perkantoran Wali Kota Sorong, pada 11 Agustus 2026.

Mari Rasakan Langsung Harmoni Budaya di Rumah Etnik Papua

Jambore ini membuktikan bahwa budaya Papua adalah identitas yang harus terus dihidupkan. Anda pun bisa turut serta mendukung pelestarian budaya ini dengan mengunjungi Yayasan Rumah Etnik Papua.

Kami menawarkan wisata edukasi dan budaya terintegrasi dengan harga yang sangat terjangkau:

  • Tiket Masuk Domestik: Hanya Rp 25.000 untuk dewasa dan Rp 10.000 untuk anak-anak.
  • Paket Yaswar: Rp 300.000/orang, sudah termasuk penyambutan tarian, sewa kostum adat lengkap, teh/kopi, dan camilan tradisional seperti sinole dan kasbi goreng.
  • Paket Sopendo: Rp 500.000/orang, dengan tambahan pengalaman menyaksikan pembuatan papeda, noken, mahkota, serta menikmati kuliner khas Papua.
  • Fasilitas Homestay: Tersedia kamar berarsitektur etnik mulai dari Rp 550.000 (Single Room) hingga Rp 1.100.000 (Double Room AC).

Mari jadikan budaya sebagai kebanggaan. Kunjungi Rumah Etnik Papua dan temukan cerita Papua dalam setiap sudutnya!

Kontak & Reservasi: 0821-9986-7918

Editor: Ridwan Elly

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top