rumahetnikpapua.com-Dilansir dari Eksplora, Suku Moi yang mendiami wilayah Sorong dan sekitarnya di Papua Barat Daya, masih mempertahankan warisan budayanya lewat Koba-Koba, payung tradisional yang sarat makna dan simbolik. Dalam tradisi Moi, Koba-Koba bukan sekadar pelindung dari hujan atau terik matahari. Payung ini hanya dipakai dalam momen-momen khusus: saat menyambut tamu penting, tokoh adat, atau dalam prosesi pernikahan adat — menandakan status dan kehormatan pemakainya
Dari sumber TRP menjelaskan bahwa bahan Koba-Koba bersumber dari alam: daun pandan hutan dikeringkan, lalu dijahit menggunakan serat kulit kayu. Desainnya menampilkan warna cerah dan motif khas, melambangkan kedekatan orang Moi dengan alam, kekuatan, serta nilai-nilai kearifan lokal.
Membuat Koba-Koba bukan hal sembarangan. Proses tersebut biasanya dilakukan oleh tetua adat atau pengrajin yang dipilih, karena mereka memahami simbolisme tiap elemen payung. Dalam proses pembuatan, sering disertai doa atau ritual, agar payung bukan hanya benda, tetapi lambang perlindungan dan kehormatan. Bagian-bagian Koba-Koba mulai dari gagang hingga daun penutup mewakili nilai-nilai hidup orang Moi: kebersamaan, kehormatan, serta hubungan manusia dengan leluhur dan alam.
Sedangkan menurut Media Indonesia Koba-Koba tidak hanya sebagai payung, Koba-Koba juga bisa berfungsi sebagai tikar, tas, wadah barang, bahkan tempat tidur bayi, tergantung kebutuhan. Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, masyarakat Moi terus berupaya mempertahankan tradisi ini melalui festival budaya dan edukasi lokal. Salah satunya melalui Festival Tumpe Klawalu di Sorong, yang menjadi ajang pelestarian tradisi seperti pembuatan Koba-Koba. Salah satu cara pelestarian juga dilakukan melalui sanggar budaya lokal: Sanggar Manoi di Sorong mengajarkan generasi muda membuat kerajinan tradisional termasuk payung Koba-Koba.
Penulis: Nilam Maya Lestari
Editor: Juju