rumahetnikpapua.com-Dilansir dari Antara News Koteka adalah busana tradisional khas daerah pegunungan Papua yang sarat makna budaya bagi masyarakat adat, terutama di wilayah tengah dan pegunungan Papua. Busana ini mulai diperkenalkan secara formal oleh para guru Belanda di Lembah Baliem, Pegunungan Jayawijaya, sekitar akhir 1940-an hingga 1950-an.
Namun, akar pemakaiannya sebenarnya sudah ada jauh sebelumnya. Koteka dibuat dari labu air (Lagenaria siceraria) yang dikeringkan hingga menjadi selongsong memanjang. Pada bagian ujungnya biasanya dihias dengan bulu ayam hutan atau bulu burung cenderawasih untuk memperindah tampilan.
Fungsi utamanya adalah sebagai penutup alat kelamin laki-laki. Penggunaan koteka paling sering dijumpai di beberapa suku pegunungan seperti Dani, Lani, dan Yali, yang secara tradisional masih mengenakannya dalam aktivitas sehari-hari. Saat dipadukan dengan aksesori tradisional lainnya, kostum ini dikenal sebagai “Holim” di beberapa suku.
Ada juga varian sebutan lain seperti hilon, harim, atau bobbe. Dari segi makna sosial, koteka bukan hanya pakaian — ia merupakan simbol identitas suku, status sosial, dan kedewasaan. Bentuk, ukuran, serta hiasannya bisa menunjukkan kedudukan pemakainya di dalam kelompok adat
Sedangkan menurut Wikipedia+2MerahPutih+2 menjelaskan bahwa meski identik dengan tradisi, penggunaan koteka kini berada di bawah tekanan modernisasi. Pemerintah pernah mendorong penggunaan pakaian “modern” melalui program bernama “Operasi Koteka”, dengan alasan kesehatan dan kesopanan, tetapi bagi banyak masyarakat adat Papua, koteka tetap menjadi lambang kebanggaan budaya mereka.Beberapa peneliti arkeologi bahkan menyarankan agar koteka diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari pendidikan muatan lokal agar tradisi ini tidak punah.
Penulis: Nilam Maya Lestari
Editor: Juju